. ♥ Home Sweet Home ♥

Pages

Rabu, 11 Mei 2011

Mari Bercinta Di Surga

Diposting oleh ♥ Sweet Home ♥ di 01.23 0 komentar

“…Peliharalah hati kami agar tak tertimbun dosa dan maksiat. Peliharalah hati kami dari segala noda dunia. Taburkanlah hati kami dengan iman agar terpelihara kami dari kesesatan dunia yang membelenggu dan dipenuhi segala mara bahaya…”
***
Kawanku yang mulia, kali ini ingin kuajak engkau terbang ke Negeri Penuh Cinta yang begitu mempesona. Kita akan menyusuri keindahan negeri tersebut melalui untaian penaku. Penaku akan memeraskan tintanya hingga terajutlah komposisi kata-kata yang tersusun menjadi paragraf-paragraf. Aku memohon kepada Allah سبحانه و تعالى agar komposisi kata-kata tersebut mampu menyegarkan kembali iman kita yang mungkin terkikis oleh fitnah-fitnah di akhir zaman ini.
Aku berjanji bahwa petualangan kita ini tak akan menjemukan atau melelahkan namun akan menyejukkan jiwa dan raga. Bagaimana tidak? Allah سبحانه و تعالى telah menyediakan di dalamnya segala sesuatu yang kita inginkan, bahkan lebih dari apa yang kita inginkan.
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“..dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya..”[1]Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..barang siapa masuk ke dalamnya ia pasti akan mendapat kelezatan dan tidak [akan] sengsara, akan kekal abadi dan tidak akan mati, pakaiannya tidak [akan] rusak, dan keremajaannya tidak akan sirna..” [2]
Bagaimana, kawan? Sudah kah engkau mengetahui ke negeri mana kita akan berpetualang? Baiklah, sambutlah uluran tanganku ini sekaligus menandakan kuatnya tekad dan harapan yang bergelora untuk menjadi penghuni Surga. Rabbi yassir.
>>>Sambutan Hangat Para Malaikat. . . .
Kedatangan orang-orang beriman dalam Surga akan mendapat sambutan dan ucapan selamat dari para malaikat. Kawan, ini adalah suasana penuh kemuliaan dan kebahagiaan layaknya seorang raja yang mendapat sambutan dari dayang-dayang dan bawahannya.
أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلامًا”…Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam Surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya..” [3]وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِن كُلِّ بَابٍْ”…sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu..” [4]وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ”…dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya..”[5]
Subhanallah, kawan. Berbahagialah engkau yang istiqamah berada di jalan keimanan ketika mereka berjuang gigih dan menyatukan barisan di jalan kekufuran.
>>>Tanah Kesturi dan Batu Kerikil. . .
Kawanku, mari kita ayunkan langkah sambil berjalan menyusuri tanah dan batu kerikil Surga. Cobalah engkau lihat. Surga tidak tercipta dari tanah liat dan batu seperti yang ada di dunia. Tanah yang kita lalui begitu lembut, bukan? Bagaimana tidak, Allah سبحانه و تعالى telah menjadikan kesturi yang amat murni bak tepuk terigu nan putih sebagai tanah Surga. Batu dan kerikilnya pun adalah mutiara dan berlian. Subhanallah.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“…di dalamnya banyak tenda dan kubah yang terbuat dari mutiara. Dan tanahnya adalah kesturi..”[6]“…tanahnya seperti tepung yang sangat putih, kesturi yang sangat murni..” [7]“…adukan semennya adalah kesturi yang sangat harum. Batu kerikilnya adalah mutiara dan berlian..” [8]
Subhanallah, begitu mengagumkan kawan. Siapakah lebih bagus ciptaannya dari Allah سبحانه و تعالى ?
>>>Pesona Keharuman Tiada Tara. .
Kawanku yang mulia, salah satu hal yang menenteramkan jiwa kita di dunia adalah ketika merasakan aroma wewangian yang sangat harum nan penuh nuansa kelembutan. Kita akan menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya kembali. Udara segar memenuhi dada serta kedua paru-paru dengan hembusan-hembusan yang mengeluarakan aroma keharuman. Lalu, sejuk dan bergairahlah jiwa-jiwa. Terkikislah jenuh pikiran. Namun tidaklah kekal karena bersifat keduniaan. Adapun di Negeri Penuh Cinta yang kekal abadi maka aroma-aroma harum semerbak tersebut tidak akan punah dan akan selalu tertebar abadi. Kualitasnya pun tentu tak akan terbandingkan.
Berbahagialah engkau yang tidak membunuh kafir Mu’ahhad [9]. Berbahagialah wanita-wanita yang menutup anggun tubuh mereka dengan syari’at hijab sehingga lekuk tubuhnya tak terlihat. Berbahagialah seorang wanita yang berjalan tidak berlenggak-lenggok untuk menyihir mata yang memandang. Kuucapkan selamat atas kami dan kalian semua.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..barang siapa membunuh kafir mu’ahhad, ia tidak akan mencium aroma Surga. Padahal aromanya bisa dicium dari jarak perjalanan 40 tahun.”[10]“..wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok guna membuat manusia memandangnya, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mendapati aromanya. Padahal aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun..” [11]
Duhai penaku, tak jemu-jemu kutitip salam untuk para wanita agar membalut tubuhnya dengan syariat hijab. Aku harap mereka tak memperlihatkan lekuk tubuh dan kecantikannya di depan kami sebagai kaum laki-laki. Sungguh, kami tak membutuhkan apa yang mereka perlihatkan itu. Kami membutuhkan keimanan mereka yang sekokoh karang. Kami membutuhkan aura ketakwaan yang menyemburat dari relung jiwa yang tersirami sejuknya ilmu syar’i.
>>>Pakaian Penduduknya dan Ranum Buahnya. . . .
Begitu banyak jenis pakaian yang ada di dunia dengan berbagai mode. Ia melambangkan keindahan dan selera pemiliknya. Penaku selanjutnya akan mengajak kita melihat gambaran pakaian penduduk Negeri Penuh Cinta agar jiwa ini semakin bergelora merindukan negeri impian tersebut (bukan Negeri Mimpi atau Republik Mimpi).
Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah menjawab pertanyaan salah seorang sahabat tentang pakaian penduduk Surga, apakah lansung diciptakan atau ditenun:“..tidak, tetapi dikeluarkan darinya buah-buahan surga..” [12] beliau mengatakannya tiga kaliوَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ”..dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera..”[13]
Bagaimana dengan buahnya? Kita akan melihat kurma terlebih dahulu. Cobalah pandang warna batangnya yang merah keemasan. Daun-daunya adalah pakaian-pakaian mahal penduduk Surga.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“…kurma Surga, batangnya terbuat dari batu jamrud hijau [14]. Warnanya merah keemasan. daunnya adalah pakaian bagi para penduduk Surga. Darinya datang potongan-potongan dan baju-baju mahal mereka..” [15]
Kawan, makanan, minuman dan buah-buahan merupakan salah satu dari sekian banyak kenikmatan yang Allah سبحانه و تعالى sediakan bagi penduduk Negeri Penuh Cinta. Amat berbeda dengan buah-buahan penduduk bumi dari segi rasa, kadar, bahkan warna dan bentuknya walaupun dengan nama yang sama.
Cobalah kau alihkan pandanganmu sejenak, buahnya begitu mudah dipetik kapanpun kita inginkan dan kehendaki. Tanpa ada kesulitan dan tak perlu alat-alat untuk membantu.
وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلا”..Dan naungan (pohon-pohon Surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya..” [16]
Pun, kita bisa menikmatinya dalam setiap keadaan baik berdiri, duduk, dan telentang dalam situasi apapun yang kita inginkan.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..sesungguhnya penduduk Surga akan makan buah-buahan Surga dalam kondisi berdiri, duduk, dan telentang dalam keadaan apapun yang mereka inginkan..” [17]
Lihatlah kembali kawan, buahnya sebesar guci dan timba. Ia lebih putih dari susu. Lebih manis dari madu. Lebih lembut dari cream. Dan ia tidak memiliki biji..
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..Buah-buahan Surga sebesar guci dan timba. Ia lebih putih dari susu. Lebih manis dari madu. Lebih lembut dari cream. Dan ia tidak memiliki biji..” [18]
Begitu rindunya hati ini dengan kenikmatan negeri nan abadi. Begitu inginnya jiwa ini bersua dalam Surga yang tiada duka dan lara.
>>>Lezatnya Daging Burung Panggang. .
Kawan yang kucinta, burung yang kita dengar kicaunya di dunia dengan segala jenisnya yang banyak memiliki daging yang lezat dan tentu saja mengundang selera, apalagi dengan racikan bumbu-bumbu khas nusantara.
Lantas bagaimana dengan daging burung Surga? Tentu saja lebih lezat dengan cita rasa yang tak bisa dirasakan kelima alat indera kita saat ini.
وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ”..dan daging burung dari apa yang mereka inginkan..” [19]Abdullah bin Abbas bertutur:“..maksudnya adalah daging burung yang kalian senangi dan kalian inginkan… Dalam hati seorang dari mereka [penduduk Surga], terbesit [keinginan] (untuk memakan) daging burung di Surga, maka burung itu langsung terbang dan terjatuh di hadapannya sesuai keinginannya dalam keadaan sudah tergoreng atau dipanggang…” Dalam sebuah hadist disebutkan:“..sesungguhnya kamu benar-benar melihat burung di surga. Maka burung itu segera terjatuh di hadapanmu dalam keadaan terpanggang..”[20]
Subhanallah.. amat nikmat berada di Negeri Penuh Cinta.
>>>Mari kawan kita bergandeng tangan…
Telah tertabuh genderang pertanda niat kita yang membara untuk menjadi penghuni Negeri Penuh Cinta. Mari kita bergembira ria menuju rahmat dan ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالى, menuju kesenangan yang penuh kenikmatan yang meggelora hati di sisi Rabb Yang Maha Berkuasa. Mari bergandeng tangan menuju negeri yang tiada lelah nan letih. Mari menuju ru’yaturrahman (memandang wajah Allah سبحانه و تعالى) dengan wajah berseri-seri karena melihat Tuhannya.
>>>Semburat do’a penuh harap..
Ya Allah,hanya rahmat-Mu yang kami harap maka janganlah menyerahkan kami kepada diri kami meski hanya sekejap mata. Perbaikilah segala urusan kami dan tunjukilah kami kepada jalan lurus tiada berliku.Peliharalah hati kami agar tak tertimbun dosa dan maksiat. Peliharalah hati kami dari segala noda dunia. Taburkanlah hati kami dengan iman agar terpelihara kami dari kesesatan dunia yang membelenggu dan dipenuhi segala mara bahaya. Isikanlah hati kami dengan kebaikan dan kemurnian agama-Mu. Lembutkanlah lidah kami untuk memuji dan mengagungkan-Mu.
Duhai Rabbi, anugerahkanlah pahala atas setiap goresan pena kami. Jadikanlah rajutan kata-kata ini menjadi embun yang menyejukkan hati bagi siapapun yang membacanya. Jadikanlah pula sebagai wasilah dan sebab tercucur dan tercurahnya hidayah-Mu. Mudah-mudahan mampu menjadi saksi kelak di hari kebangkitan.
****Sekian, salam santun penuh kehangatan cinta untuk anda semua. .Subhanakallahu allahumma wa bihamdika, asyhadu alla ila ha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika..
Fachrian Almer Akira (Yani Fachriansyah Muhammad as-Samawiy)
Mataram, Lombok._Selesai beberapa menit menjelang pukul 00.30 wita dini hari._(kala dentuman hujan mengguyur kota)14 Jumadil Tsani 1431 H (28 Mei 2010)_
udhatul-muhibbin.blogspot.com/2010/10/mari-bercinta-di-surga.html

Atas Nama Cinta

Diposting oleh ♥ Sweet Home ♥ di 01.10 0 komentar

Aku memulai tulisan ini, atas nama cinta. Cinta kepadamu, yang membuatku ingin menuliskannya, menjelaskannya, mudah-mudahan kau mengerti.
Seiring berlalunya waktu, dalam lingkup pergaulan keluarga, kerabat, sahabat, perbedaan pendapat dan sudut pandang sering kali berbenturan yang terkadang melahirkan konflik. Konflik yang tidak semestinya ada, jika kita selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada pedoman kita, Al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat, generasi awal yang mendapat pengajaran langsung dari manusia yang mulia, suri tauladan terbaik, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Pada saat-saat seperti itu, aku terkadang mengatakan sesuatu yang tidak kau sukai. Mungkin karena kau tidak memahami, atau caraku yang keliru dan tidak memahami kondisimu. Dan mungkin terkesan memaksakan kehendak. Tetapi ketahuilah itu karena aku mencintaimu, karenanya aku berusaha menarik tanganmu, manahanmu, agar tidak terlena pada sesuatu yang dapat menjerumuskanmu dan mungkin akan kau sesali nanti.
Setelah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, aku memahami satu hal. Persabahatan yang sangat berarti, bukan pada saat berbagi sedih dan bahagia, bukan hanya saling mendukung di saat susah dan senang. Akan tetapi seberapa perduli engkau, ketika sahabatmu melakukan kesalahan, dan dengan tegas mengatakan kepadanya, “berhentilah, karena kau telah keliru melangkah,” dan bukannya membelanya dan membiarkannya berlarut-larut dalam kesalahan sedangkan engkau mengetahuinya.
Cinta yang sebenarnya bukanlah kasih sayang menggebu, bunga dan puisi-puisi manis seperti yang dikisahkan pada roman-roman picisan. Cinta, menggerakkan seseorang untuk mencegah orang yang dicintainya untuk jatuh pada kesalahan yang dapat membinasakan dirinya. Cinta menggerakkan seseorang untuk terus mengarahkan orang yang dicintai, agar senantiasa berada dalam kebaikan – seperti seorang ibu yang terpaksa harus menghukum anaknya agar jera – meski untuk itu dia harus menerima kepahitan, karena kebenaran tidak selamanya dipahami sebagai sebuah kebaikan, ketika seseorang sedang terlena.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah [6/923])
Terkadang aku harus menaris nafas dalam-dalam, agar sesak tidak lagi terlalu menghimpit, karena ada saat-saat di mana niat baik itu, usaha untuk menunjukkan kebaikan dan menjelaskan kesalahan, diartikan sebagai wujud kebencian, cemburu, hasad, dikomentari dengan sinis, seolah aku tidak suka melihatmu bersenang-senang dengan caramu meski sesaat. Sesuatu yang membuatku harus menghembuskan lagi nafas itu sekuat-kuatnya, agar tidak tertinggal perih yang membuatku berhenti mencintaimu. Aku ingin aku tak berhenti, karena aku berharap Allah akan ridha pada cinta karena Dia, dan merahmatiku dan dirimu dengan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (Mutafaq alaihi)
Adalah tabiat manusia, yang selalu berkeluh kesah. Juga adalah tabiat manusia, pada satu keadaan, tak ingin terlihat salah sepenuhnya karena itu akan membuatnya terkesan rapuh, dan karenanya selalu berusaha mencari sebuah penjelasan, alasan, alibi, agar kesalahannya dapat diabaikan, dilupakan. Dan juga menjadi tabiat manusia, terkadang tidak rela menerima sebuah peringatan… nasihat, dari orang lain, terlebih jika yang mengatakannya adalah seorang yang menurutnya mempunyai ilmu lebih rendah, lebih muda usianya, dan lebih rendah kedudukannya. Hanya saja satu hal yang tidak pernah boleh diabaikan. Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun dan dari siapapun datangnya. Seseorang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya tidak membatalkan kebenaran. Sesuatu tidak menjadi benar karena dikatakan oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Akan tetapi kebenaran adalah sesuatu yang didukung dengan ilmu, dengan dalil.
Jika aku menyampaikan sesuatu padamu, bukan berarti aku lebih baik darimu. Tidak! Akan tetapi aku ingin, berharap, suatu saat nanti bila aku keliru melangkah, ada seseorang yang perduli mengawasiku, memanggilku, menarik tanganku, dan mengajakku untuk kembali kepada jalan yang lurus, karena dia mencintai untukku kebaikan, sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya. Karena aku, dan dia, sama-sama menginginkan keiman sejati, sebagaimana sabda kekasih yang mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dari Anas radhiallahu anhu)
Sungguh, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar memiliki keimanan di dalam hati. Dan aku yakin kau pun begitu. Aku mencintai kebaikan untuk diriku, dan menginginkan kebaikan yang sama pada dirimu pula. Aku menginginkan keselamatan dari murka Allah untuk diriku, dan mencintai untukmu keselamtan yang sama. Aku mencintai surga, sebagaimana aku juga menginginkan surga bagimu. Semoga dengan begitu kita bisa bersama-sama saling mengingatkan, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, merentas jalan untuk meraihnya. Karena untuk berjalan seorang diri itu teramat sulit, bahkan bisa jadi mustahil. Sedangkan musuh kita, syaithan dari golongan jin dan manusia, bersatu padu, memanggil-manggil dengan pesona kelembutan dan daya tariknya, setiap saaat berusaha mengalihkan jalan kita pada kebinasasaan. Sungguh, kau… dan aku. membutuhkan orang lain untuk selalu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan taqwa dalam meniti jalan ini.
Karenanya jika ada di antara ucapan atau cara bersikapku yang tidak berkenan bagimu, tolong maafkan, dan yakinlah, sesungguhnya aku melakukannya atas nama cinta, kecintaan kepada saudaraku seiman, dalam islam dan sunnah, agar selalu bersama-sama dalam kebaikan. Karenanya sungguh aku ingin mengatakan ini:
إنيى أحبك في الله
“Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.

Dan membalas orang-orang yang mencitaiku karena Allah dengan doa:
أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya.”
HR Abu Dawud, 4/133, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Mereka Berkata Tentang Cinta

Diposting oleh ♥ Sweet Home ♥ di 01.07 0 komentar

Anas radhiallahu anhu berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata,
ما تحابا الرجلان إلا كان أفضلهما أشدهما حبا لصاحبه
‘Dua orang saling mencintai (karena Allah) maka yang paling baik di antara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya.”‘
[Shahih, di dalam kitab Ash-Shahihah (450). [lihat kitab Shahih Adabul Mufrad]
Dari Ubaid al-Kindi berkata:
سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُوْلُ لاِبْنِ الْكَوَّاءِ هَلْ تَدْرِي مَا قَالَ اْلأَوَّلُ ؟ أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمَا مَا
“Aku mendengar Ali berkata kepada Ibnul Kawwa, “Apakah engakau tahu apa yang dikatakan pertama?” “Cintailah orang yang engkau cintai dengan sewajarnya, karena mungkin ia akan menjadi orang yang engkau benci suatu hari nanti. Bencilah orang yang engkau benci dengan sewajarnya, mungkin ia akan menjadi kecintaanmu suatu hari nanti.”
[Hasan lighairihi, diriwayatkan dengan riwayat yang mauquf, telah di shahihkan dengan riwayat marfu' di dalam kitab Ghaayatul-Maram (272), (LIhat Shahih Adabul Mufrad Imam Bukhari) oleh Syaikh Albani)]
Dari Aslam, dari Umar bin Khaththab radhiallahu anhu berkata:
لاَ يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا وَلاَ بَغُضُكَ تَلَفًا فَقُلْتُ كَيْفَ ذَاكَ ؟ قَالَ إِذَا أَحْبَبْتَ كَلِفْتَ كَلَفَ الصَّبِيِّ وَإِذَا أَبْغَضْتَ أَحْبَبْتَ لِصَاحِبِكَ التَّلَف
“Janganlah cintamu menjadikan keterlenaan bagimu, dan jangan pula kebencianmu menajdikan kehancuran bagimu. Aku berkata, “Bagaimanakah itu?” Ia berkata, “Bila engkau mencitainya, maka engkau mencitainya sampai engkau terlena seperti layaknya seorang anak kecil, dan bila engkau membenci, engkau menginginkan kehancuran baginya.”
Shahih sanadnya (Lihat Shahih Adabul Mufad Imam Bukhari oleh Syaikh Albani)
Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu berkata:
إذا أحببت أخا فلا تماره ولا تشاره ولا تسأل عنه فعسى أن توافى له عدوا فيخبرك بما ليس فيه فيفرق بينك وبينه
“Apabila engkau mencintai seseorang, maka janganlah engkau berdebat dengan dia. Janganlah engkau membicarakannya, janganlah engkau bertanya tentang dia, karena barangkali engkau bertemu dengan musuhnya lalu dia memberitahukanmu tentang sesuatu yang tidak terdapat pada dia sehingga menyebabkan perpecahan antara dia denganmu.”
Shahih, sanadnya yang mauquf dan hadits tersebut diriwayatkan dengan periwayatan yang marfu’ di dalam kitab Adh-Dha’ifah (1420).

Selasa, 10 Mei 2011

♥Innii Uhibbuki Fillaah

Diposting oleh ♥ Sweet Home ♥ di 21.36 0 komentar

    ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °  ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °

• · Indahnya persahabatan dalam keta’atan kepada Allaah tabaraka wa ta’ala… ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • ° Innii Uhibbuki Fillaah ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)
Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)
Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)
Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)
Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)
Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)
Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)
Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)
Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)




Mari Bercinta Di Surga

0 komentar

“…Peliharalah hati kami agar tak tertimbun dosa dan maksiat. Peliharalah hati kami dari segala noda dunia. Taburkanlah hati kami dengan iman agar terpelihara kami dari kesesatan dunia yang membelenggu dan dipenuhi segala mara bahaya…”
***
Kawanku yang mulia, kali ini ingin kuajak engkau terbang ke Negeri Penuh Cinta yang begitu mempesona. Kita akan menyusuri keindahan negeri tersebut melalui untaian penaku. Penaku akan memeraskan tintanya hingga terajutlah komposisi kata-kata yang tersusun menjadi paragraf-paragraf. Aku memohon kepada Allah سبحانه و تعالى agar komposisi kata-kata tersebut mampu menyegarkan kembali iman kita yang mungkin terkikis oleh fitnah-fitnah di akhir zaman ini.
Aku berjanji bahwa petualangan kita ini tak akan menjemukan atau melelahkan namun akan menyejukkan jiwa dan raga. Bagaimana tidak? Allah سبحانه و تعالى telah menyediakan di dalamnya segala sesuatu yang kita inginkan, bahkan lebih dari apa yang kita inginkan.
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“..dan di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya..”[1]Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..barang siapa masuk ke dalamnya ia pasti akan mendapat kelezatan dan tidak [akan] sengsara, akan kekal abadi dan tidak akan mati, pakaiannya tidak [akan] rusak, dan keremajaannya tidak akan sirna..” [2]
Bagaimana, kawan? Sudah kah engkau mengetahui ke negeri mana kita akan berpetualang? Baiklah, sambutlah uluran tanganku ini sekaligus menandakan kuatnya tekad dan harapan yang bergelora untuk menjadi penghuni Surga. Rabbi yassir.
>>>Sambutan Hangat Para Malaikat. . . .
Kedatangan orang-orang beriman dalam Surga akan mendapat sambutan dan ucapan selamat dari para malaikat. Kawan, ini adalah suasana penuh kemuliaan dan kebahagiaan layaknya seorang raja yang mendapat sambutan dari dayang-dayang dan bawahannya.
أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلامًا”…Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam Surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya..” [3]وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِن كُلِّ بَابٍْ”…sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu..” [4]وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ”…dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya..”[5]
Subhanallah, kawan. Berbahagialah engkau yang istiqamah berada di jalan keimanan ketika mereka berjuang gigih dan menyatukan barisan di jalan kekufuran.
>>>Tanah Kesturi dan Batu Kerikil. . .
Kawanku, mari kita ayunkan langkah sambil berjalan menyusuri tanah dan batu kerikil Surga. Cobalah engkau lihat. Surga tidak tercipta dari tanah liat dan batu seperti yang ada di dunia. Tanah yang kita lalui begitu lembut, bukan? Bagaimana tidak, Allah سبحانه و تعالى telah menjadikan kesturi yang amat murni bak tepuk terigu nan putih sebagai tanah Surga. Batu dan kerikilnya pun adalah mutiara dan berlian. Subhanallah.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“…di dalamnya banyak tenda dan kubah yang terbuat dari mutiara. Dan tanahnya adalah kesturi..”[6]“…tanahnya seperti tepung yang sangat putih, kesturi yang sangat murni..” [7]“…adukan semennya adalah kesturi yang sangat harum. Batu kerikilnya adalah mutiara dan berlian..” [8]
Subhanallah, begitu mengagumkan kawan. Siapakah lebih bagus ciptaannya dari Allah سبحانه و تعالى ?
>>>Pesona Keharuman Tiada Tara. .
Kawanku yang mulia, salah satu hal yang menenteramkan jiwa kita di dunia adalah ketika merasakan aroma wewangian yang sangat harum nan penuh nuansa kelembutan. Kita akan menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya kembali. Udara segar memenuhi dada serta kedua paru-paru dengan hembusan-hembusan yang mengeluarakan aroma keharuman. Lalu, sejuk dan bergairahlah jiwa-jiwa. Terkikislah jenuh pikiran. Namun tidaklah kekal karena bersifat keduniaan. Adapun di Negeri Penuh Cinta yang kekal abadi maka aroma-aroma harum semerbak tersebut tidak akan punah dan akan selalu tertebar abadi. Kualitasnya pun tentu tak akan terbandingkan.
Berbahagialah engkau yang tidak membunuh kafir Mu’ahhad [9]. Berbahagialah wanita-wanita yang menutup anggun tubuh mereka dengan syari’at hijab sehingga lekuk tubuhnya tak terlihat. Berbahagialah seorang wanita yang berjalan tidak berlenggak-lenggok untuk menyihir mata yang memandang. Kuucapkan selamat atas kami dan kalian semua.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..barang siapa membunuh kafir mu’ahhad, ia tidak akan mencium aroma Surga. Padahal aromanya bisa dicium dari jarak perjalanan 40 tahun.”[10]“..wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berjalan berlenggak-lenggok guna membuat manusia memandangnya, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mendapati aromanya. Padahal aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun..” [11]
Duhai penaku, tak jemu-jemu kutitip salam untuk para wanita agar membalut tubuhnya dengan syariat hijab. Aku harap mereka tak memperlihatkan lekuk tubuh dan kecantikannya di depan kami sebagai kaum laki-laki. Sungguh, kami tak membutuhkan apa yang mereka perlihatkan itu. Kami membutuhkan keimanan mereka yang sekokoh karang. Kami membutuhkan aura ketakwaan yang menyemburat dari relung jiwa yang tersirami sejuknya ilmu syar’i.
>>>Pakaian Penduduknya dan Ranum Buahnya. . . .
Begitu banyak jenis pakaian yang ada di dunia dengan berbagai mode. Ia melambangkan keindahan dan selera pemiliknya. Penaku selanjutnya akan mengajak kita melihat gambaran pakaian penduduk Negeri Penuh Cinta agar jiwa ini semakin bergelora merindukan negeri impian tersebut (bukan Negeri Mimpi atau Republik Mimpi).
Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah menjawab pertanyaan salah seorang sahabat tentang pakaian penduduk Surga, apakah lansung diciptakan atau ditenun:“..tidak, tetapi dikeluarkan darinya buah-buahan surga..” [12] beliau mengatakannya tiga kaliوَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ”..dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera..”[13]
Bagaimana dengan buahnya? Kita akan melihat kurma terlebih dahulu. Cobalah pandang warna batangnya yang merah keemasan. Daun-daunya adalah pakaian-pakaian mahal penduduk Surga.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“…kurma Surga, batangnya terbuat dari batu jamrud hijau [14]. Warnanya merah keemasan. daunnya adalah pakaian bagi para penduduk Surga. Darinya datang potongan-potongan dan baju-baju mahal mereka..” [15]
Kawan, makanan, minuman dan buah-buahan merupakan salah satu dari sekian banyak kenikmatan yang Allah سبحانه و تعالى sediakan bagi penduduk Negeri Penuh Cinta. Amat berbeda dengan buah-buahan penduduk bumi dari segi rasa, kadar, bahkan warna dan bentuknya walaupun dengan nama yang sama.
Cobalah kau alihkan pandanganmu sejenak, buahnya begitu mudah dipetik kapanpun kita inginkan dan kehendaki. Tanpa ada kesulitan dan tak perlu alat-alat untuk membantu.
وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلا”..Dan naungan (pohon-pohon Surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya..” [16]
Pun, kita bisa menikmatinya dalam setiap keadaan baik berdiri, duduk, dan telentang dalam situasi apapun yang kita inginkan.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..sesungguhnya penduduk Surga akan makan buah-buahan Surga dalam kondisi berdiri, duduk, dan telentang dalam keadaan apapun yang mereka inginkan..” [17]
Lihatlah kembali kawan, buahnya sebesar guci dan timba. Ia lebih putih dari susu. Lebih manis dari madu. Lebih lembut dari cream. Dan ia tidak memiliki biji..
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:“..Buah-buahan Surga sebesar guci dan timba. Ia lebih putih dari susu. Lebih manis dari madu. Lebih lembut dari cream. Dan ia tidak memiliki biji..” [18]
Begitu rindunya hati ini dengan kenikmatan negeri nan abadi. Begitu inginnya jiwa ini bersua dalam Surga yang tiada duka dan lara.
>>>Lezatnya Daging Burung Panggang. .
Kawan yang kucinta, burung yang kita dengar kicaunya di dunia dengan segala jenisnya yang banyak memiliki daging yang lezat dan tentu saja mengundang selera, apalagi dengan racikan bumbu-bumbu khas nusantara.
Lantas bagaimana dengan daging burung Surga? Tentu saja lebih lezat dengan cita rasa yang tak bisa dirasakan kelima alat indera kita saat ini.
وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ”..dan daging burung dari apa yang mereka inginkan..” [19]Abdullah bin Abbas bertutur:“..maksudnya adalah daging burung yang kalian senangi dan kalian inginkan… Dalam hati seorang dari mereka [penduduk Surga], terbesit [keinginan] (untuk memakan) daging burung di Surga, maka burung itu langsung terbang dan terjatuh di hadapannya sesuai keinginannya dalam keadaan sudah tergoreng atau dipanggang…” Dalam sebuah hadist disebutkan:“..sesungguhnya kamu benar-benar melihat burung di surga. Maka burung itu segera terjatuh di hadapanmu dalam keadaan terpanggang..”[20]
Subhanallah.. amat nikmat berada di Negeri Penuh Cinta.
>>>Mari kawan kita bergandeng tangan…
Telah tertabuh genderang pertanda niat kita yang membara untuk menjadi penghuni Negeri Penuh Cinta. Mari kita bergembira ria menuju rahmat dan ketaatan kepada Allah سبحانه و تعالى, menuju kesenangan yang penuh kenikmatan yang meggelora hati di sisi Rabb Yang Maha Berkuasa. Mari bergandeng tangan menuju negeri yang tiada lelah nan letih. Mari menuju ru’yaturrahman (memandang wajah Allah سبحانه و تعالى) dengan wajah berseri-seri karena melihat Tuhannya.
>>>Semburat do’a penuh harap..
Ya Allah,hanya rahmat-Mu yang kami harap maka janganlah menyerahkan kami kepada diri kami meski hanya sekejap mata. Perbaikilah segala urusan kami dan tunjukilah kami kepada jalan lurus tiada berliku.Peliharalah hati kami agar tak tertimbun dosa dan maksiat. Peliharalah hati kami dari segala noda dunia. Taburkanlah hati kami dengan iman agar terpelihara kami dari kesesatan dunia yang membelenggu dan dipenuhi segala mara bahaya. Isikanlah hati kami dengan kebaikan dan kemurnian agama-Mu. Lembutkanlah lidah kami untuk memuji dan mengagungkan-Mu.
Duhai Rabbi, anugerahkanlah pahala atas setiap goresan pena kami. Jadikanlah rajutan kata-kata ini menjadi embun yang menyejukkan hati bagi siapapun yang membacanya. Jadikanlah pula sebagai wasilah dan sebab tercucur dan tercurahnya hidayah-Mu. Mudah-mudahan mampu menjadi saksi kelak di hari kebangkitan.
****Sekian, salam santun penuh kehangatan cinta untuk anda semua. .Subhanakallahu allahumma wa bihamdika, asyhadu alla ila ha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika..
Fachrian Almer Akira (Yani Fachriansyah Muhammad as-Samawiy)
Mataram, Lombok._Selesai beberapa menit menjelang pukul 00.30 wita dini hari._(kala dentuman hujan mengguyur kota)14 Jumadil Tsani 1431 H (28 Mei 2010)_
udhatul-muhibbin.blogspot.com/2010/10/mari-bercinta-di-surga.html

Atas Nama Cinta

0 komentar

Aku memulai tulisan ini, atas nama cinta. Cinta kepadamu, yang membuatku ingin menuliskannya, menjelaskannya, mudah-mudahan kau mengerti.
Seiring berlalunya waktu, dalam lingkup pergaulan keluarga, kerabat, sahabat, perbedaan pendapat dan sudut pandang sering kali berbenturan yang terkadang melahirkan konflik. Konflik yang tidak semestinya ada, jika kita selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada pedoman kita, Al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat, generasi awal yang mendapat pengajaran langsung dari manusia yang mulia, suri tauladan terbaik, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Pada saat-saat seperti itu, aku terkadang mengatakan sesuatu yang tidak kau sukai. Mungkin karena kau tidak memahami, atau caraku yang keliru dan tidak memahami kondisimu. Dan mungkin terkesan memaksakan kehendak. Tetapi ketahuilah itu karena aku mencintaimu, karenanya aku berusaha menarik tanganmu, manahanmu, agar tidak terlena pada sesuatu yang dapat menjerumuskanmu dan mungkin akan kau sesali nanti.
Setelah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, aku memahami satu hal. Persabahatan yang sangat berarti, bukan pada saat berbagi sedih dan bahagia, bukan hanya saling mendukung di saat susah dan senang. Akan tetapi seberapa perduli engkau, ketika sahabatmu melakukan kesalahan, dan dengan tegas mengatakan kepadanya, “berhentilah, karena kau telah keliru melangkah,” dan bukannya membelanya dan membiarkannya berlarut-larut dalam kesalahan sedangkan engkau mengetahuinya.
Cinta yang sebenarnya bukanlah kasih sayang menggebu, bunga dan puisi-puisi manis seperti yang dikisahkan pada roman-roman picisan. Cinta, menggerakkan seseorang untuk mencegah orang yang dicintainya untuk jatuh pada kesalahan yang dapat membinasakan dirinya. Cinta menggerakkan seseorang untuk terus mengarahkan orang yang dicintai, agar senantiasa berada dalam kebaikan – seperti seorang ibu yang terpaksa harus menghukum anaknya agar jera – meski untuk itu dia harus menerima kepahitan, karena kebenaran tidak selamanya dipahami sebagai sebuah kebaikan, ketika seseorang sedang terlena.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah [6/923])
Terkadang aku harus menaris nafas dalam-dalam, agar sesak tidak lagi terlalu menghimpit, karena ada saat-saat di mana niat baik itu, usaha untuk menunjukkan kebaikan dan menjelaskan kesalahan, diartikan sebagai wujud kebencian, cemburu, hasad, dikomentari dengan sinis, seolah aku tidak suka melihatmu bersenang-senang dengan caramu meski sesaat. Sesuatu yang membuatku harus menghembuskan lagi nafas itu sekuat-kuatnya, agar tidak tertinggal perih yang membuatku berhenti mencintaimu. Aku ingin aku tak berhenti, karena aku berharap Allah akan ridha pada cinta karena Dia, dan merahmatiku dan dirimu dengan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (Mutafaq alaihi)
Adalah tabiat manusia, yang selalu berkeluh kesah. Juga adalah tabiat manusia, pada satu keadaan, tak ingin terlihat salah sepenuhnya karena itu akan membuatnya terkesan rapuh, dan karenanya selalu berusaha mencari sebuah penjelasan, alasan, alibi, agar kesalahannya dapat diabaikan, dilupakan. Dan juga menjadi tabiat manusia, terkadang tidak rela menerima sebuah peringatan… nasihat, dari orang lain, terlebih jika yang mengatakannya adalah seorang yang menurutnya mempunyai ilmu lebih rendah, lebih muda usianya, dan lebih rendah kedudukannya. Hanya saja satu hal yang tidak pernah boleh diabaikan. Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun dan dari siapapun datangnya. Seseorang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya tidak membatalkan kebenaran. Sesuatu tidak menjadi benar karena dikatakan oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Akan tetapi kebenaran adalah sesuatu yang didukung dengan ilmu, dengan dalil.
Jika aku menyampaikan sesuatu padamu, bukan berarti aku lebih baik darimu. Tidak! Akan tetapi aku ingin, berharap, suatu saat nanti bila aku keliru melangkah, ada seseorang yang perduli mengawasiku, memanggilku, menarik tanganku, dan mengajakku untuk kembali kepada jalan yang lurus, karena dia mencintai untukku kebaikan, sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya. Karena aku, dan dia, sama-sama menginginkan keiman sejati, sebagaimana sabda kekasih yang mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dari Anas radhiallahu anhu)
Sungguh, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar memiliki keimanan di dalam hati. Dan aku yakin kau pun begitu. Aku mencintai kebaikan untuk diriku, dan menginginkan kebaikan yang sama pada dirimu pula. Aku menginginkan keselamatan dari murka Allah untuk diriku, dan mencintai untukmu keselamtan yang sama. Aku mencintai surga, sebagaimana aku juga menginginkan surga bagimu. Semoga dengan begitu kita bisa bersama-sama saling mengingatkan, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, merentas jalan untuk meraihnya. Karena untuk berjalan seorang diri itu teramat sulit, bahkan bisa jadi mustahil. Sedangkan musuh kita, syaithan dari golongan jin dan manusia, bersatu padu, memanggil-manggil dengan pesona kelembutan dan daya tariknya, setiap saaat berusaha mengalihkan jalan kita pada kebinasasaan. Sungguh, kau… dan aku. membutuhkan orang lain untuk selalu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan taqwa dalam meniti jalan ini.
Karenanya jika ada di antara ucapan atau cara bersikapku yang tidak berkenan bagimu, tolong maafkan, dan yakinlah, sesungguhnya aku melakukannya atas nama cinta, kecintaan kepada saudaraku seiman, dalam islam dan sunnah, agar selalu bersama-sama dalam kebaikan. Karenanya sungguh aku ingin mengatakan ini:
إنيى أحبك في الله
“Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.

Dan membalas orang-orang yang mencitaiku karena Allah dengan doa:
أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya.”
HR Abu Dawud, 4/133, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Mereka Berkata Tentang Cinta

0 komentar

Anas radhiallahu anhu berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata,
ما تحابا الرجلان إلا كان أفضلهما أشدهما حبا لصاحبه
‘Dua orang saling mencintai (karena Allah) maka yang paling baik di antara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya.”‘
[Shahih, di dalam kitab Ash-Shahihah (450). [lihat kitab Shahih Adabul Mufrad]
Dari Ubaid al-Kindi berkata:
سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُوْلُ لاِبْنِ الْكَوَّاءِ هَلْ تَدْرِي مَا قَالَ اْلأَوَّلُ ؟ أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمَا مَا
“Aku mendengar Ali berkata kepada Ibnul Kawwa, “Apakah engakau tahu apa yang dikatakan pertama?” “Cintailah orang yang engkau cintai dengan sewajarnya, karena mungkin ia akan menjadi orang yang engkau benci suatu hari nanti. Bencilah orang yang engkau benci dengan sewajarnya, mungkin ia akan menjadi kecintaanmu suatu hari nanti.”
[Hasan lighairihi, diriwayatkan dengan riwayat yang mauquf, telah di shahihkan dengan riwayat marfu' di dalam kitab Ghaayatul-Maram (272), (LIhat Shahih Adabul Mufrad Imam Bukhari) oleh Syaikh Albani)]
Dari Aslam, dari Umar bin Khaththab radhiallahu anhu berkata:
لاَ يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا وَلاَ بَغُضُكَ تَلَفًا فَقُلْتُ كَيْفَ ذَاكَ ؟ قَالَ إِذَا أَحْبَبْتَ كَلِفْتَ كَلَفَ الصَّبِيِّ وَإِذَا أَبْغَضْتَ أَحْبَبْتَ لِصَاحِبِكَ التَّلَف
“Janganlah cintamu menjadikan keterlenaan bagimu, dan jangan pula kebencianmu menajdikan kehancuran bagimu. Aku berkata, “Bagaimanakah itu?” Ia berkata, “Bila engkau mencitainya, maka engkau mencitainya sampai engkau terlena seperti layaknya seorang anak kecil, dan bila engkau membenci, engkau menginginkan kehancuran baginya.”
Shahih sanadnya (Lihat Shahih Adabul Mufad Imam Bukhari oleh Syaikh Albani)
Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu berkata:
إذا أحببت أخا فلا تماره ولا تشاره ولا تسأل عنه فعسى أن توافى له عدوا فيخبرك بما ليس فيه فيفرق بينك وبينه
“Apabila engkau mencintai seseorang, maka janganlah engkau berdebat dengan dia. Janganlah engkau membicarakannya, janganlah engkau bertanya tentang dia, karena barangkali engkau bertemu dengan musuhnya lalu dia memberitahukanmu tentang sesuatu yang tidak terdapat pada dia sehingga menyebabkan perpecahan antara dia denganmu.”
Shahih, sanadnya yang mauquf dan hadits tersebut diriwayatkan dengan periwayatan yang marfu’ di dalam kitab Adh-Dha’ifah (1420).

♥Innii Uhibbuki Fillaah

0 komentar

    ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °  ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °

• · Indahnya persahabatan dalam keta’atan kepada Allaah tabaraka wa ta’ala… ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • ° Innii Uhibbuki Fillaah ° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)
Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)
Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)
Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)
Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi 13/70)
Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 499)
Beliau melanjutkan : “Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al Ibanah 2/464 nomor 459-460)
Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihis Salam bersabda: “Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al Ibanah 2/480 nomor 514)
Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor 419-420)
Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah 2/476 nomor 498)
Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah 2/479 nomor 509-510)




 

♥ Home Sweet Home ♥ Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal